Entah hanya sebuah kebetulan atau memang takdir Tuhan...
Setiap kejadian yang menyangkut kami berdua pasti diiringi derai hujan
Entah hanya gerimis atau hujan deras
Kami seperti didampingi dengan hujan, tentang jatuhnya jutaan butir air dari langit..
Dulu, dan dari dahulu
Aku memang mencintai hujan
Hujan seperti jutaan tetes kebahagiaan, entah darimana filosofi itu berasal
Setiap pergi sekolah dimusim hujan, melihat air yang mengenang dipunggung jalan. Aku tertawa.
Setiap sampai disekolah, hujan masih turun pun ku rentangkan tangan sejajar dengan dada.
Merasakan setiap butir yang jatuh dan menyentuh kulit tangan ini.
Aku tersenyum dan mengangkat kepala lebar-lebar.
Merasakan setiap butirnya jatuh.
Sepulang sekolah, melihat genangan sisa-sisa pertempuran sang tetesan pun kurasa tidak cukup untuk dibiarkan begitu saja.
Bermain dengan genangan itupun menjadi hal yang paling dirindukan saat ini.
Dahulu aku tak tau apa alasanku mencintai hujan.
Disaat semua orang mengeluh dengan turunnya sang maha besar itu, aku selalu berkata "Ini adalah berkah"
Dan saat ini aku tahu mengapa aku begitu mencintai hujan.
Hujan menjadi perantara untuk sebuah pertemuan.
Pertemuan dengan diapun yang mencintai hujan.
Dan hidup kami yang saat ini tak pernah terpisah dari hujan.
Aku menikmati saat-saat bersamanya didampingi titik-titik hujan...
Aku sang gadis pecinta hujan..
Ya aku mencintai hujan..
Akupun mencintaimu, mencintai detik-detik saat kebersamaan denganmu dan dengan hujan kita...
Terima kasih selalu mendampingiku, walaupun tidak setiap saat hujan.
Tapi semuanya, saat hujan selalu lengkap dengan adanya dirimu.
Disampingku saat ini, esok, dan seterusnya.
Terima kasih, menjadi pelengkapku.
Terima kasih, cintanya padaku dan pada hujan kita
love
-desember-
Setiap kejadian yang menyangkut kami berdua pasti diiringi derai hujan
Entah hanya gerimis atau hujan deras
Kami seperti didampingi dengan hujan, tentang jatuhnya jutaan butir air dari langit..
Dulu, dan dari dahulu
Aku memang mencintai hujan
Hujan seperti jutaan tetes kebahagiaan, entah darimana filosofi itu berasal
Setiap pergi sekolah dimusim hujan, melihat air yang mengenang dipunggung jalan. Aku tertawa.
Setiap sampai disekolah, hujan masih turun pun ku rentangkan tangan sejajar dengan dada.
Merasakan setiap butir yang jatuh dan menyentuh kulit tangan ini.
Aku tersenyum dan mengangkat kepala lebar-lebar.
Merasakan setiap butirnya jatuh.
Sepulang sekolah, melihat genangan sisa-sisa pertempuran sang tetesan pun kurasa tidak cukup untuk dibiarkan begitu saja.
Bermain dengan genangan itupun menjadi hal yang paling dirindukan saat ini.
Dahulu aku tak tau apa alasanku mencintai hujan.
Disaat semua orang mengeluh dengan turunnya sang maha besar itu, aku selalu berkata "Ini adalah berkah"
Dan saat ini aku tahu mengapa aku begitu mencintai hujan.
Hujan menjadi perantara untuk sebuah pertemuan.
Pertemuan dengan diapun yang mencintai hujan.
Dan hidup kami yang saat ini tak pernah terpisah dari hujan.
Aku menikmati saat-saat bersamanya didampingi titik-titik hujan...
Aku sang gadis pecinta hujan..
Ya aku mencintai hujan..
Akupun mencintaimu, mencintai detik-detik saat kebersamaan denganmu dan dengan hujan kita...
Terima kasih selalu mendampingiku, walaupun tidak setiap saat hujan.
Tapi semuanya, saat hujan selalu lengkap dengan adanya dirimu.
Disampingku saat ini, esok, dan seterusnya.
Terima kasih, menjadi pelengkapku.
Terima kasih, cintanya padaku dan pada hujan kita
love
-desember-