Selasa, 09 September 2014

tentang hari-hari yang terlampau berwarna ;)

Senin, 8 Agustus 2014
Hari senin untuk semester ini setiap pagi bakal diantar abang ke kampus. Senin-senin minggu lalu dia tidak pernah telat datang dan hebatnya dia menunggu. Sesuatu yang jarang terjadi. Dosen setiap senin pagi sudah membuat kesepakatan yang datang lebih dari 7.40 tidak akan dibolehin masuk. Dan abang jemput kerumah 7.40
Dan akupun pasrah.
Abang bilang dia akan kekampus setelah antar aku. Ya ide yang lumayan tidak buruk, akhirnya kuputuskan saja ikut dia kekampusnya.

Sesampainya dikampus abang...
Rame...
Dia mengajak aku ke kantin tempat biasa dia berkumpul dan menambah korelasi pertemanannya.
Awalnya dia menyapa seorang laki-laki diujung jauh dari tempat kami duduk.
Mereka saling melempar gurau dari jarak jauh
"Dasar lelaki" dalam hatiku.
Suasana pagi itu di kantin kampusnya tidak begitu ramai, masih banyak sudut yang kosong yang belum terjamah hiruk pikuk mereka yang sekedar ingin minum kopi ataupun makan makanan berat.

Kami duduk di depan stand langganan abang, dia hanya memesan kopi hitam pekat pada ibu yang jadi langganannya dengan panggilan "ibu". Seperti kegemarannya akan kopi hitam yang tak terlalu manis, sesekali aku melemparkan senyum padanya. Suatu saat aku akan terus menemani nya, setiap pagi. Menghirup udara pagi dan secangkir kopi hitam pekat itu. Tak lama itu dia mengeluarkan benda petak berwarna putih-merah yang kuyakini isinya adalah rokok. Ya abang memang perokok.

Aku menunduk, selalu terbiasa untuk tak melihatnya merokok. Entah kenapa seperti dorongan bahwa aku takut melihatnya. Dia menyesap kopinya dan mulai menyalakan rokoknya. Sekali hisap, dia memperhatikanku. Aku tau dia melihatku, terasa meski aku tak melihat langsung. Aku mengangkat muka ku, dia tersenyum.
"Kalo asep rokoknya ketempat dd, pake ini aja. Abang bingung kenapa slayer abang wangi dd"
Dia memberikan slayer hitam yg biasa dipake nya untuk masker ketika naik motor. Kucium slayer itu, memastikan apa yang dia bilang benar atau tidak tentang wangiku.

Suasana kantin mulai ramai, mulai terdengar suara suara tawa, obrolan, ataupun teriakan seorang teman ke temannya. Dan mulai sesak dengan asap rokok yang begitu menusuk hidung dan membuat kepalaku migrain.

Abang memang pandai membaca situasi. Dia lantas mengajakku keliling fakultasnya. Melihat aktivitas yang ada disana. Aku terasa asing.

Selama dia mengajakku berkeliling, dia tak henti-henti nya berceria. Sesekali dia menyapa temannya dan aku hanya tersenyum mendengar gurauan yang dia lakukan ke temannya.
Setiap langkah kami berganti, berpuluh pasang mata seakan melihat gerak kami. Abang berbisik "mereka liatin kita karena apa yg kita "tampilkan" ke mereka". Memang pagi itu aku hanya memakai jeans dan jaket serta converse buluk favorit dan abang yang memakai kemeja dan tracking. Dan abang bilang "80% perempuan dan laki-laki pasti iri dengan pasangan yang kayak anak gunung, dd kan bawa slayer mereka pasti ngira dd anak gunung" aku menoleh dan melempar senyum melihat ekspresi muka lucunya.

Seselesainya kami berkeliling kami kembali ke kantin. Suasana sudah benar-benar tidak kondusif untuk orang macam aku.
Aku tidak suka keramaian dan suasana yang begitu berisik. Dan asap rokok.
Semua terkait kelainan darahku.
Aku tidak pernah bisa ke acara konser atau acara ramai lainnya. Mungkin terdengar cupu tapi itu kenyataan. Kenyataan yang aku selalu ingin itu bukan kenyataan lagi kelak.
Asap rokok, tapi aku mencintai orang yang mencintai benda beracun itu.
Setiap perempuan pasti mendambakan laki-laki yang bersih tanpa pernah paru-paru nya ada asap rokok. Itu pula yg terjadi padaku, dulu. Jujur aku benci itu. Tapi apakah lantas aku tak bisa mencoba mencintai dia yang begitu mencintai aku hanya karena dia perokok? Begitu bodohnya lah ketika masih memikirkan itu tanpa bisa mengerti apa yang jadi pilihan hidupnya.
Walaupun aku berdoa suatu saat dia bisa mengerti apa yg jadi pilihannya adalah hal buruk untuknya. Tapi biarlah itu jadi pilihannya saat ini atau mungkin seterusnya akan begitu.

Akhirnya abang mengajakku untuk kekampus. Karena waktu yang sudah menunjukkan bahwa mata kuliah kedua sudah akan dimulai.
Diperjalanan aku mengeluh kepala ku yang migrain. Dan aku mengeluh bahwa maklumi aku yang tidak bisa didalam suasana itu.


Sampai hari ini kepala ku masih migrain ditambah kakiku memar karena darahku mengeluh.
Tapi paling tidak didalam hidupku, aku tidak akan pernah melalui hari-hari yang membuat darahku tidak aman dan tidak berulah. Hidup terlalu flat saat semuanya aman terkendali saja :))


Salam
Aku yang tidak bisa (suka) keramaian dan asap rokok ;)

Minggu, 07 September 2014

Untuk sebuah nama, pertemanan

Masalah ada kadang dibuat untuk menunjukkan siapa yang ada disamping kita saat banyak yang mencaci, atau mungkin menunjukkan bahwa kita mampu menghadapinya dengan lapang dada atau mungkin juga agar kita dapat membuka mata siapa yang mampu disebut sahabat atau orang yang benar-benar mencintai kita.
Banyak pelajaran akhir-akhir ini yang bisa diambil. Hidup ga melulu tentang cinta. 
Tapi cinta selalu ada, sebagai bagian dari gerakan nadi.
Masalah tentang pertemanan sering menjadi masalah kompleks dihidup ini. Bahwa begitu kuat ikatan itu semakin kuat ada "celahnya" untuk hancur.
Ada yang diam-diam tidak suka, ada yang diam-diam selalu mengungkit kebaikan, ada yang berusaha keras berasumsi pada satu orang yang dianggap paling benar padahal itu akar permasalah dan ada yang bertahan untuk sebuah kebenaran dan keutuhan.

Setelahnya pasti terlalu banyak makian disana. Setelahnya akan ada kebencian yang mungkin mendarah daging, atau mungkin hubungan itu akan erat kembali meski ada celah. Yaa celah.


Meyakini bahwa pada dasarnya manusia itu berhati baik adalah mutlak. Tuhan menciptakan itu dengan sempurna. Sesempurna dia banyak membawa kebaikan di diri masing-masing manusia itu sendiri.

Aku adalah salah satu manusia yang memegang erat prinsip pertemanan. Aku adalah orang yang selalu ingin berdiri didepan ketika satu orang dikhianati kebaikan hati nya. Dan aku adalah orang yang benci akan perselisihan.
Pelajaran tentang pertemanan sudah kudapatkan dari awal aku tau apa sebenarnya pertemanan itu sendiri. Tapi akulah orang ya akan menyingkir duluan ketika perselisihan itu akhirnya berakhir.
Karena aku tau, saat aku sudah selesai menjadi pendengar yang baik dan bahkan dicaci karena selalu ikut campur. Mungkin saat itu tugasku selesai...

Selamat menghargai pertemanan :))
Selamat hidup dalam pertemanan itu sendiri :))
Selamat menambah kebahagiaan dan kesedihan :))
Dan Selamat saling membutuhkan :))

Jumat, 05 September 2014

surat untuk Allah

Tentang sebuah kehilangan dan pertemuan. Tentang banyaknya menunggu segala hal yang tak pasti kedatangannya dan bahkan hilangnya.

Terlalu banyak waktu hilang untuk seseorang yang bahkan tak pernah menghargai keberadaan. Banyak airmata yang jatuh sia-sia untuk orang yang bahkan berusaha mati-matian pergi dan meninggalkan banyak luka. Tapi Tuhan selalu tau, bahwa semuanya hanyalah proses menemukan dan ditemukan dengan yang terbaik.

Tentang banyaknya kebohongan yang terus tumbuh tanpa terbendung. Tentang banyaknya dusta yang ada dihati. Pergi adalah jawaban terbaiknya.


Sampai lelah-lelah-lelah. Sulit untuk percaya-percaya-percaya dan ketakutan yang terus timbul.


Tapi hati ini selalu berharap akan pertemuan. Pertemuan dengannya yang bahkan menyakiti hati ini pun dia terlalu takut. Pertemuan dengannya yang bahkan ingin menjaga dan tak ingin merusak. Pertemuan dengannya yang selalu ingin merealisasikan impian yang hanya berani berada di bawah mimpi tanpa berani menjadikannya nyata.

Harapan hanya harapan ketika tidak mampu meminta kesungguhan padaNya, maha cinta.
Untuk segala karunia ini. Yang bukan hanya harapan. Dihaturkan penuh untuk Allah. Terima kasih, sudah ciptakan dia.
Terima kasih, sudah begitu mencintai dan menyayangiku.
Terima kasih, dia orangnya. Untukku menetap dihatinya. Untuknya menetap dihatiku...