Jumat, 26 Juni 2015

Masa yang baru

Alhamdulillah, Ramadhan kesekian tahun setelah peristiwa yang tak terlupakan itu.
Masih berdiri tegak? Alhamdulillah, dengan izin Allah.
Melewati masa-masa sulit yang begitu keras-sulit-menyakitkan
Begitu menyakitkan, begitu bodoh.
Tapi apakah terus menyesali semua yang sudah terjadi?
Saat itu rasanya. Tak punya rasa.
Rasanya tak punya pikiran. Tapi, hati masih terus diliputi rasa sedih yang tak berkesudahan. Selalu di bayang-bayangi hal-hal buruk. Menakutkan. Tapi masih bisa makan, tidur, merespon semua orang yang sayang sama diri ini.
Menganggap tidak ada kejadian. Menganggap semuanya baik-baik saja. Menganggap semua nya lewat begitu saja.
Tapi, pada kenyataannya. Bertahun-tahun berusaha untuk melupakan segala macam trauma ketakutan pada masalalu.
Berupaya menyembuhkan sendiri, berjuang, dan berdamai pada diri sendiri bahwa peristiwa itu tak akan kembali terulang.

Lillahi ta'ala. Semua karena Allah.
Dengan segala kemurahan hatiNYA masih diberi segala sesuatu. Yang bahkan manusia pun tak dapat memberinya.
Memberi segala sesuatu, saat dosa masih begitu menumpuk.
Ya Rabb, terima kasih. Aku dilahirkan dari keluarga muslim. Yang mampu membuatku selalu bersujud kapanpun saatku butuh.


Pujian akan hidup ini bergulir. Tapi itu cambuk.
Aku tak mengerti menjelaskannya. Tapi, jujur saja segala ketabahan ini bukan semata-mata karena ingin pujian manusia. Tapi hanya untukmu, Allah.

Aku tak sesempurna apa yang mereka katakan. Aku tidak sehebat apa yang mereka katakan pula. Karena aku selalu berharap Ridho Allah untuk setiap harinya diberi nafas untuk kehidupan.

Semoga segala sesuatu yang terjadi kemarin tetap menjadi yang kemarin.
Semoga semua kebaikan diberikan selalu pada hambaNya yang berlumur dosa & noda ini.


Semoga menjadi manusia yang berguna dan bermanfaat untuk banyak orang. Bukan hanya memperbaiki masa lalu tapi juga memperbaiki cara pandang akan hidup.

Alhamdulillah, masih bernafas ketika menulis ini...

Sabtu, 13 Juni 2015

Jadi ceritanya yang lagi ngeblog ini abis malminggan cyiiin. Ga sih, udah kelar dari setengah 9 yang lalu. Terus keluar bentar karena dideket rumah ada yang kuda lumpingan. Ya, ajang jajan-jajan ga sehat ala dedep lah yah.


Malming malam ini disponsori oleh keisengan seorang depita yang iseng-iseng nanyain masalalu abang. Selalu jadi hal konyol dan ajang ngakak-ngakak sampe yang lewat depan teras noleh ke kita yang ga nyantai ngetawain masalalu.

Kata orang pantang ngomongin masalalu. Ya, bisa flashback. Tapi, ga juga tuh. Malahan bagi kami pasangan yang hobi ketawa-ketawa ga jelas itu bisa jadi salah satu lelucon mengocok perut.

Dimulai entah darimana. Tapi, hal yang pertsma diutarakan adalah abang pernah kepikiran bahwa aku prrnah ga merasa jadi pelarian. Dan dengan tegas saya bilang "ga" jujur dari awal kita kenal kita memang seadanya. Ga ada pikiran macem-macem mau kearah mana nantinya kita. Dan dia bilang "abang sempet takut, ay mikir kalo abang ngajakin jadi teman hidup gini karna pelarian dari yang lama. Karna jujur abang ga ada pikiran untuk main-main."

Gantian aku yang bilang sesuatu "ay, dd pernah mikir masaan ay tuh ngajakin dd gini gara-gara sikawan itu. Mau bales dendam gara-gara dd mutusin dia"
Abang bilang "Ya ampun, abang juga mikir gitu. Tapi, sama sekali ay ga ada. Jujur ga sama ada ay"

Lah percaya dong aku. Percayalah, dia orang jujur sedunia..


Dan semua lelucon kami malam ini. Hanya kami dan Allah yang tau *maapin kami ngetawain ya Allah*




Di blog ini. Mau menjelaskan. Aku dekat sama abang dari SMP. Ga ngerti gimana tiba-tiba nomer dia nelfon ke hp ku dan trnyata itu nomer dia dan dia ga juga tau kalo yang dia telfon itu nomerku. Selama kita kenal. Dia punya pacar dan aku juga. Kita ga pernah saling ganggu dan itu juga posisinya aku di medan. Aku dekaaat bgt sama dia akhir kls 3 SMA pas aku balik ke palembang dan posisinya aku ada pacar tapi dia ga ada haha :'D
Kita ga pernah ngomongin hal serius ttg kita. Yang kita tau adalah kita saling dukung dan selalu ada saat sama sama saling butuh. Dengarkan semua cerita smpai kita ngerti satu sama lain.
Sampai pada satu titik kayaknya doi jenuh banget ma kisah percintaan dia yang segitu peliknya dan selalu dikhianati disakiti. Percayalah, dia orang tergila yang pernah kutemui masalah mencintai perempuannya. Top lah pokoknya kalo udah cinta banget!


Oh ya btw, makasih banget yang pernah jelek-jelekin aku. Seakan tau semua cerita tentang kami.Makasih juga loh setia banget mau liatin aku di medsos. Ga kok aku mah orangnya ga suka jelek jelekin orang di medsos. Aku orangnya mah cinta damai.

Senin, 06 April 2015

Apa yang kau kejar dari dunia ini?

"Apa sih yang kau kejar dari dunia ini?"
Kata-kata itu terus mengiang di telingaku beberapa waktu ini.
Aku terus berpikir. Terus mencari-cari jawaban atas keresahan yang coba kututupi tapi tetap ketara saat aku sendiri.
Aku bukan mahasiswa yang se-cemerlang mereka yang ipk nya diatas 3,5. Aku bukan mahasiswa yang bisa mengerjai banyak tugas dalam satu waktu hanya untuk berleha-leha setelahnya atau malah belajar lagi.
Aku tipe yang menyerah saat memang tak bisa tapi tak berani mengopek apalagi mencontek saat ujian.
Ya, aku tak se-cemerlang mereka.

Jadi apa yang kukejar?
Yang kukejar adalah menambah relasi dan berbagi tawa pada mereka yang banyak tawa tapi tak mampu bergerak sebebas manusia biasa.
Itu yang kukejar, itu yang kuimpikan.

"Nuli, banyaklah bekawan. Banyain relasi, gausah pintar-pintar kali. Percuma kau pintar tapi ga banyak kawan. Mereka yang bantu kau nanti"
"Nuli, apapun yang kita punya. Sesusah apapun jangan lupa kasih manfaat ke orang banyak"

Itu kata-kata menohok yang membuatku sadar bahwa hidup tidak tentang belajar tapi tentang membahagiakan banyak orang.

"Buat apa sih ngurusin orang? Apa gunanya coba. Capek-capekin aja"
"Kalo aku mending dirumah daripada sibuk ngurusin orang"
"Sok baik"
"Berbuat baik kok diumbar-umbar"
Sering dengar kata-kata diatas?
Seriiiiiiiiiiing.
Seriiiiiiiiing
Seriiiiiiiing
Tapi bodo amat.
Aku hidup bukan untuk orang yang mencibir apalagi iri sama apa yang aku lakukan.

Sekali lagi, itu yang kukejar.
Aku bertarget meluluskan kuliah tepat waktu. Tapi tak berniat jadi mahasiswa cumlaude yang ujung-ujung cuma buat aku "meninggi" dan tak bermanfaat untuk orang banyak.
"Jadilah manusia yang bermanfaat bagi orang banyak"