Alhamdulillah, Ramadhan kesekian tahun setelah peristiwa yang tak terlupakan itu.
Masih berdiri tegak? Alhamdulillah, dengan izin Allah.
Melewati masa-masa sulit yang begitu keras-sulit-menyakitkan
Begitu menyakitkan, begitu bodoh.
Tapi apakah terus menyesali semua yang sudah terjadi?
Saat itu rasanya. Tak punya rasa.
Rasanya tak punya pikiran. Tapi, hati masih terus diliputi rasa sedih yang tak berkesudahan. Selalu di bayang-bayangi hal-hal buruk. Menakutkan. Tapi masih bisa makan, tidur, merespon semua orang yang sayang sama diri ini.
Menganggap tidak ada kejadian. Menganggap semuanya baik-baik saja. Menganggap semua nya lewat begitu saja.
Tapi, pada kenyataannya. Bertahun-tahun berusaha untuk melupakan segala macam trauma ketakutan pada masalalu.
Berupaya menyembuhkan sendiri, berjuang, dan berdamai pada diri sendiri bahwa peristiwa itu tak akan kembali terulang.
Lillahi ta'ala. Semua karena Allah.
Dengan segala kemurahan hatiNYA masih diberi segala sesuatu. Yang bahkan manusia pun tak dapat memberinya.
Memberi segala sesuatu, saat dosa masih begitu menumpuk.
Ya Rabb, terima kasih. Aku dilahirkan dari keluarga muslim. Yang mampu membuatku selalu bersujud kapanpun saatku butuh.
Pujian akan hidup ini bergulir. Tapi itu cambuk.
Aku tak mengerti menjelaskannya. Tapi, jujur saja segala ketabahan ini bukan semata-mata karena ingin pujian manusia. Tapi hanya untukmu, Allah.
Aku tak sesempurna apa yang mereka katakan. Aku tidak sehebat apa yang mereka katakan pula. Karena aku selalu berharap Ridho Allah untuk setiap harinya diberi nafas untuk kehidupan.
Semoga segala sesuatu yang terjadi kemarin tetap menjadi yang kemarin.
Semoga semua kebaikan diberikan selalu pada hambaNya yang berlumur dosa & noda ini.
Semoga menjadi manusia yang berguna dan bermanfaat untuk banyak orang. Bukan hanya memperbaiki masa lalu tapi juga memperbaiki cara pandang akan hidup.
Alhamdulillah, masih bernafas ketika menulis ini...
Masih berdiri tegak? Alhamdulillah, dengan izin Allah.
Melewati masa-masa sulit yang begitu keras-sulit-menyakitkan
Begitu menyakitkan, begitu bodoh.
Tapi apakah terus menyesali semua yang sudah terjadi?
Saat itu rasanya. Tak punya rasa.
Rasanya tak punya pikiran. Tapi, hati masih terus diliputi rasa sedih yang tak berkesudahan. Selalu di bayang-bayangi hal-hal buruk. Menakutkan. Tapi masih bisa makan, tidur, merespon semua orang yang sayang sama diri ini.
Menganggap tidak ada kejadian. Menganggap semuanya baik-baik saja. Menganggap semua nya lewat begitu saja.
Tapi, pada kenyataannya. Bertahun-tahun berusaha untuk melupakan segala macam trauma ketakutan pada masalalu.
Berupaya menyembuhkan sendiri, berjuang, dan berdamai pada diri sendiri bahwa peristiwa itu tak akan kembali terulang.
Lillahi ta'ala. Semua karena Allah.
Dengan segala kemurahan hatiNYA masih diberi segala sesuatu. Yang bahkan manusia pun tak dapat memberinya.
Memberi segala sesuatu, saat dosa masih begitu menumpuk.
Ya Rabb, terima kasih. Aku dilahirkan dari keluarga muslim. Yang mampu membuatku selalu bersujud kapanpun saatku butuh.
Pujian akan hidup ini bergulir. Tapi itu cambuk.
Aku tak mengerti menjelaskannya. Tapi, jujur saja segala ketabahan ini bukan semata-mata karena ingin pujian manusia. Tapi hanya untukmu, Allah.
Aku tak sesempurna apa yang mereka katakan. Aku tidak sehebat apa yang mereka katakan pula. Karena aku selalu berharap Ridho Allah untuk setiap harinya diberi nafas untuk kehidupan.
Semoga segala sesuatu yang terjadi kemarin tetap menjadi yang kemarin.
Semoga semua kebaikan diberikan selalu pada hambaNya yang berlumur dosa & noda ini.
Semoga menjadi manusia yang berguna dan bermanfaat untuk banyak orang. Bukan hanya memperbaiki masa lalu tapi juga memperbaiki cara pandang akan hidup.
Alhamdulillah, masih bernafas ketika menulis ini...