Dengan ribuan hari yang terlewati, jutaan detik yang menyisakan derai airmata hingga detik ini, dan tahun-tahun yang berlalu tanpa kata menyerah.
Di usia dibawah 20 tahun, harus menerima kenyataan bahwa kelak saat memilih untuk hidup seatap dengan seseorang laki-laki yang sudah dituliskan di lauhul mahfudz akan banyak mengahadapi kesulitan. Kesulitan saat harus berkata jujur tentang semua yang ada nantinya, dan segala kesulitan lain yang datang...
Ribuan hari, menangisi setiap ingat bagaimana sulit menerima kenyataan yang ada...
Ribuan jalan ditempuh demi sebuah kata "normal" sampai akhirnya dapat menerima semuanya dengan rasa syukur karena terlahir istimewa.
Allah menghendaki, bahwa diri ini kuat menerima semua pemberianNya. Yang sebenarnya tak ada apa-apanya dibanding kesulitan orang-orang diluar sana.
Tidak ada kata paling menyedihkan dari vonis-vonis yang datang tiap tahunnya. Bahkan, rasa disakiti hati oleh orang terdekatpun tiada arti nya dari ini.
Lebih kuat atas segala cemoohan, lebih kuat atas fitnah yang datang, lebih kuat dari sekedar tidak dianggap penting oleh seseorang...
Diberi hati sekuat baja, dititipi kelainan yang setiap ingat tiada henti terus meneteskan airmata. Bukan lemah, mungkin hati ini terlalu perasa. Bahkan untuk hal sederhana saja, diri ini tidak bisa melakukan dan membuat bahagia...
Semoga kelak, semuanya berubah. Vonis-vonis itu bukan lagi menghantui hari-hari kelak saat bersama dengan yang kusemogakan itu. Aaamiin Allahumma Aaamiiin 🙏
Untuk depita, yang terus belajar memaafkan diri sendiri bahwa ini bukan kesalahan dirinya. Semoga Allah melapangkan selalu hati ini...
Aaamiin
Di usia dibawah 20 tahun, harus menerima kenyataan bahwa kelak saat memilih untuk hidup seatap dengan seseorang laki-laki yang sudah dituliskan di lauhul mahfudz akan banyak mengahadapi kesulitan. Kesulitan saat harus berkata jujur tentang semua yang ada nantinya, dan segala kesulitan lain yang datang...
Ribuan hari, menangisi setiap ingat bagaimana sulit menerima kenyataan yang ada...
Ribuan jalan ditempuh demi sebuah kata "normal" sampai akhirnya dapat menerima semuanya dengan rasa syukur karena terlahir istimewa.
Allah menghendaki, bahwa diri ini kuat menerima semua pemberianNya. Yang sebenarnya tak ada apa-apanya dibanding kesulitan orang-orang diluar sana.
Tidak ada kata paling menyedihkan dari vonis-vonis yang datang tiap tahunnya. Bahkan, rasa disakiti hati oleh orang terdekatpun tiada arti nya dari ini.
Lebih kuat atas segala cemoohan, lebih kuat atas fitnah yang datang, lebih kuat dari sekedar tidak dianggap penting oleh seseorang...
Diberi hati sekuat baja, dititipi kelainan yang setiap ingat tiada henti terus meneteskan airmata. Bukan lemah, mungkin hati ini terlalu perasa. Bahkan untuk hal sederhana saja, diri ini tidak bisa melakukan dan membuat bahagia...
Semoga kelak, semuanya berubah. Vonis-vonis itu bukan lagi menghantui hari-hari kelak saat bersama dengan yang kusemogakan itu. Aaamiin Allahumma Aaamiiin 🙏
Untuk depita, yang terus belajar memaafkan diri sendiri bahwa ini bukan kesalahan dirinya. Semoga Allah melapangkan selalu hati ini...
Aaamiin