Rabu, 13 September 2017

Jadi. Mau jadi apa kita?

Pertanyaan itu terus menerus berputar di otakku. Separuh pusing separuh bingung. Aku ini mau jadi apa sih? SMA anak IPA tapi bego bgt masalah itungan. Kuliah berkutat lagi dengan ekonomi itungan. Suka motret, ga terlalu suka dipotret. punya kamera. punya peralatannya sampe dibilang cocok jadi kang potret. tapi, ngerasa ga cocok. Sukanya sastra suka banget. Suka nulis cerita, suka buat puisi, suka baca puisi. Walaupun ga getol banget. Banyak ga tau nya sama sastrawan. Tapi, setiap buat tulisan ada aja yg komen tulisannya bagus kenapa ga masuk jurusan sastra aja. Mungkin ga jalannya. Tapi, ga buat kuping naik dengan itu semua. Aku remahan keripik singkong, dibanding orang diluar sana. 

Tapi, aku suka. Ngomong.
Walaupun awalnya pasti gugup. Aku suka kebebasan dan selalu berharap dapet kerjaan yang bebas dan ga terkekang dalam satu ruangan. Aku ingin, kesukaan aku dalam olah kata itu one day bisa membawa aku kemanapun. Yang buat orang berhenti"ngecilin" aku. Suatu hari, aku ngeliat lowongan kerja, salah satu keinginan terbesar aku kayak ngasih peluang gitu walaupun keyakinan aku ga sampe separuh saat itu. Aku pikir ga salahnya nyoba masukkan itu. Dan dipanggil dong. Demi apapun aku seneng bgt, pintu aku untuk ketemu orang-orang hebat terbuka lebar (aku selalu melihat orang yang punya kerjaan tapi bisa bebas bergerak kemana aja itu keren). Baru dipanggil buat wawancara aja aku seneng kebangetan. Dalam bayanganku, berkecamuk hal yang buat tegang. Ya seperti wawancara sebelum ini. Ternyata berbanding terbalik aja dooong.


Aku ga berharap banyak akan hal ini. Coy, berharap itu pedih banget kalo ga kesampaian. Jadi, aku berusaha untuk menyerahkan semuanya sama Allah seperti doa yang selalu aku panjatkan kepadaNya "jikalau aku dikasih pekerjaan, semoga itu pekerjaan yang baik untukku. Yang mampu membuatku semakin dekat padaMu dan selalu engkau ridhoi"
Dan aku mau kerjaan yang akan ku dapatkan nanti sesuai kemampuan dan passion aku. Karena ga mau kerjaan karena paksaan dan buat aku migren lagi bertahun tahun hupttt

Jadi, jadi mau apa kita? Seperti kata pewawancara ku kemarin, cintailah apa yang kau suka. Karena apapun yang kau lakukan pasti akan menimbulkan rasa cinta pada pekerjaanmu. 
InsyaAllah, aku sudah menemukanmu. Tapi, kalau Allah ridhoi❤

Selasa, 14 Februari 2017

Berhijab? Tunggu siap?

Ngeblog dulu deh, ku lelah setiap malam buat lamaran kerja😂

Jadi tema tulisan malam ini apa?
Tentang hijrah.
Ga kok, ga berat bahasannya. Aku juga belum sepenuhnya berhijrah. Masih kerudungan seadanya khas wanita akhir jaman.
Tapi, aku adalah satu dari bermilyar orang yang beruntung. Aku dilahirkan Islam. Islam yang sempurna, tapi tidak dengan aku.
Islam yang saat ini harga dirinya sedang dipertaruhkan. Hanya karena manusia-manusia rakus haus jabatan. Yha. Begitulah.

Aku mengesampingkan hal itu dan kembali ke bahasan sebelumnya. Aku wanita yang baru beberapa tahun ini berhijab. Aku tidak menunggu hidayah atau apalah itu. Seperti tulisan-tulisan anonim yang tersebar di internet kini.
Aku begitu spontan mengenakannya. Tidak berpikir itu untuk ayahku (seperti tulisan yang pernah kubaca 2 tahun belakangan ini yang lagi-lagi tersebar di Internet). Ternyata keputusanku saat itu benar dan saat aku baca artikel islami bahwa "berhijablah, kelak itu akan menjadi salah satu alasan utk menghantarkan ayahmu ke pintu surga". Aku bersyukur, setidaknya ia tahu aku melakukan itu tanpa pengetahuan lebih tentang itu.

Aku tidak mendeklarasikan diriku ini soleha. Jauh. Jauh sekali. Melihat teman-teman muslimahku yang lain. Ada yang sudah berhijab, ada yang setengah-setengah, bahkan ada yang belum sama sekali. Dengan berbagai macam alasan. Dan aku lagi-lagi kagum pada teman yang menolak keras untuk membuka hijabnya utk sebuah pekerjaan. Padahal hidup lumayan sulit, tapi pilihannya. Allah pasti memberikannya yang terbaik, tanpa harus melalaikan kewajiban wanita yang sudah baligh itu.

Berhijab bukan cuma soal ikut-ikutan jaman. Tapi, memang sudah saatnya itu berkembang. Dulu mungkin belum banyak bahan utk membuat cukup pakaian yang layak dikenakan. Tapi, dijaman yang bahkan beli kain saja bisa lewat internet. Masih maukah mengenakan pakaian kurang bahan seperti nenek moyang kita? Huh tamparan keras utk aku yang diteras rumah masih ga berhijab😂


Untuk hal baik, pasti sulit dilakukan. Katanya sih jaminannya surga. Iya susah memang awalnya nutupin rambut indah kita, kulit putih nan bersih, dan semuanya yang indah indah lah. Tapi percayalah, itu semua demi menjaga kita. Dan percayalah saat kita melakukan itu, semua yg indah itu akan semakin indah. Karena terjaga dari sengatan matahari di dunia (Ini fakta dari aku sendiri yang merasakan).

Dan jangan ragu untuk berhijab, ingat jaminannya surga untuk kita, ayah, kakak laki-laki, dan suami (kelak) kita😊

Please, don't judge me. Gara-gara postingan ini. Aku sadar diri, masih banyak dosa yang dilakukan. Tapi, biarlah Allah yang mengetahui akan itu semua.

Buat wanita yang baca ini. Semoga Allah menyegerakan kita menyempurnakan ibadah yang satu ini. Aamiin


Loves
-dedep❤


Jumat, 24 Juni 2016

Untukmu, Aku Kuat

Dengan ribuan hari yang terlewati, jutaan detik yang menyisakan derai airmata hingga detik ini, dan tahun-tahun yang berlalu tanpa kata menyerah.

Di usia dibawah 20 tahun, harus menerima kenyataan bahwa kelak saat memilih untuk hidup seatap dengan seseorang laki-laki yang sudah dituliskan di lauhul mahfudz akan banyak mengahadapi kesulitan. Kesulitan saat harus berkata jujur tentang semua yang ada nantinya, dan segala kesulitan lain yang datang...

Ribuan hari, menangisi setiap ingat bagaimana sulit menerima kenyataan yang ada...
Ribuan jalan ditempuh demi sebuah kata "normal" sampai akhirnya dapat menerima semuanya dengan rasa syukur karena terlahir istimewa.
Allah menghendaki, bahwa diri ini kuat menerima semua pemberianNya. Yang sebenarnya tak ada apa-apanya dibanding kesulitan orang-orang diluar sana.

Tidak ada kata paling menyedihkan dari vonis-vonis yang datang tiap tahunnya. Bahkan, rasa disakiti hati oleh orang terdekatpun tiada arti nya dari ini.

Lebih kuat atas segala cemoohan, lebih kuat atas fitnah yang datang, lebih kuat dari sekedar tidak dianggap penting oleh seseorang...


Diberi hati sekuat baja, dititipi kelainan yang setiap ingat tiada henti terus meneteskan airmata. Bukan lemah, mungkin hati ini terlalu perasa. Bahkan untuk hal sederhana saja, diri ini tidak bisa melakukan dan membuat bahagia...


Semoga kelak, semuanya berubah. Vonis-vonis itu bukan lagi menghantui hari-hari kelak saat bersama dengan yang kusemogakan itu. Aaamiin Allahumma Aaamiiin 🙏


Untuk depita, yang terus belajar memaafkan diri sendiri bahwa ini bukan kesalahan dirinya. Semoga Allah melapangkan selalu hati ini...
Aaamiin

Jumat, 26 Juni 2015

Masa yang baru

Alhamdulillah, Ramadhan kesekian tahun setelah peristiwa yang tak terlupakan itu.
Masih berdiri tegak? Alhamdulillah, dengan izin Allah.
Melewati masa-masa sulit yang begitu keras-sulit-menyakitkan
Begitu menyakitkan, begitu bodoh.
Tapi apakah terus menyesali semua yang sudah terjadi?
Saat itu rasanya. Tak punya rasa.
Rasanya tak punya pikiran. Tapi, hati masih terus diliputi rasa sedih yang tak berkesudahan. Selalu di bayang-bayangi hal-hal buruk. Menakutkan. Tapi masih bisa makan, tidur, merespon semua orang yang sayang sama diri ini.
Menganggap tidak ada kejadian. Menganggap semuanya baik-baik saja. Menganggap semua nya lewat begitu saja.
Tapi, pada kenyataannya. Bertahun-tahun berusaha untuk melupakan segala macam trauma ketakutan pada masalalu.
Berupaya menyembuhkan sendiri, berjuang, dan berdamai pada diri sendiri bahwa peristiwa itu tak akan kembali terulang.

Lillahi ta'ala. Semua karena Allah.
Dengan segala kemurahan hatiNYA masih diberi segala sesuatu. Yang bahkan manusia pun tak dapat memberinya.
Memberi segala sesuatu, saat dosa masih begitu menumpuk.
Ya Rabb, terima kasih. Aku dilahirkan dari keluarga muslim. Yang mampu membuatku selalu bersujud kapanpun saatku butuh.


Pujian akan hidup ini bergulir. Tapi itu cambuk.
Aku tak mengerti menjelaskannya. Tapi, jujur saja segala ketabahan ini bukan semata-mata karena ingin pujian manusia. Tapi hanya untukmu, Allah.

Aku tak sesempurna apa yang mereka katakan. Aku tidak sehebat apa yang mereka katakan pula. Karena aku selalu berharap Ridho Allah untuk setiap harinya diberi nafas untuk kehidupan.

Semoga segala sesuatu yang terjadi kemarin tetap menjadi yang kemarin.
Semoga semua kebaikan diberikan selalu pada hambaNya yang berlumur dosa & noda ini.


Semoga menjadi manusia yang berguna dan bermanfaat untuk banyak orang. Bukan hanya memperbaiki masa lalu tapi juga memperbaiki cara pandang akan hidup.

Alhamdulillah, masih bernafas ketika menulis ini...

Sabtu, 13 Juni 2015

Jadi ceritanya yang lagi ngeblog ini abis malminggan cyiiin. Ga sih, udah kelar dari setengah 9 yang lalu. Terus keluar bentar karena dideket rumah ada yang kuda lumpingan. Ya, ajang jajan-jajan ga sehat ala dedep lah yah.


Malming malam ini disponsori oleh keisengan seorang depita yang iseng-iseng nanyain masalalu abang. Selalu jadi hal konyol dan ajang ngakak-ngakak sampe yang lewat depan teras noleh ke kita yang ga nyantai ngetawain masalalu.

Kata orang pantang ngomongin masalalu. Ya, bisa flashback. Tapi, ga juga tuh. Malahan bagi kami pasangan yang hobi ketawa-ketawa ga jelas itu bisa jadi salah satu lelucon mengocok perut.

Dimulai entah darimana. Tapi, hal yang pertsma diutarakan adalah abang pernah kepikiran bahwa aku prrnah ga merasa jadi pelarian. Dan dengan tegas saya bilang "ga" jujur dari awal kita kenal kita memang seadanya. Ga ada pikiran macem-macem mau kearah mana nantinya kita. Dan dia bilang "abang sempet takut, ay mikir kalo abang ngajakin jadi teman hidup gini karna pelarian dari yang lama. Karna jujur abang ga ada pikiran untuk main-main."

Gantian aku yang bilang sesuatu "ay, dd pernah mikir masaan ay tuh ngajakin dd gini gara-gara sikawan itu. Mau bales dendam gara-gara dd mutusin dia"
Abang bilang "Ya ampun, abang juga mikir gitu. Tapi, sama sekali ay ga ada. Jujur ga sama ada ay"

Lah percaya dong aku. Percayalah, dia orang jujur sedunia..


Dan semua lelucon kami malam ini. Hanya kami dan Allah yang tau *maapin kami ngetawain ya Allah*




Di blog ini. Mau menjelaskan. Aku dekat sama abang dari SMP. Ga ngerti gimana tiba-tiba nomer dia nelfon ke hp ku dan trnyata itu nomer dia dan dia ga juga tau kalo yang dia telfon itu nomerku. Selama kita kenal. Dia punya pacar dan aku juga. Kita ga pernah saling ganggu dan itu juga posisinya aku di medan. Aku dekaaat bgt sama dia akhir kls 3 SMA pas aku balik ke palembang dan posisinya aku ada pacar tapi dia ga ada haha :'D
Kita ga pernah ngomongin hal serius ttg kita. Yang kita tau adalah kita saling dukung dan selalu ada saat sama sama saling butuh. Dengarkan semua cerita smpai kita ngerti satu sama lain.
Sampai pada satu titik kayaknya doi jenuh banget ma kisah percintaan dia yang segitu peliknya dan selalu dikhianati disakiti. Percayalah, dia orang tergila yang pernah kutemui masalah mencintai perempuannya. Top lah pokoknya kalo udah cinta banget!


Oh ya btw, makasih banget yang pernah jelek-jelekin aku. Seakan tau semua cerita tentang kami.Makasih juga loh setia banget mau liatin aku di medsos. Ga kok aku mah orangnya ga suka jelek jelekin orang di medsos. Aku orangnya mah cinta damai.

Senin, 06 April 2015

Apa yang kau kejar dari dunia ini?

"Apa sih yang kau kejar dari dunia ini?"
Kata-kata itu terus mengiang di telingaku beberapa waktu ini.
Aku terus berpikir. Terus mencari-cari jawaban atas keresahan yang coba kututupi tapi tetap ketara saat aku sendiri.
Aku bukan mahasiswa yang se-cemerlang mereka yang ipk nya diatas 3,5. Aku bukan mahasiswa yang bisa mengerjai banyak tugas dalam satu waktu hanya untuk berleha-leha setelahnya atau malah belajar lagi.
Aku tipe yang menyerah saat memang tak bisa tapi tak berani mengopek apalagi mencontek saat ujian.
Ya, aku tak se-cemerlang mereka.

Jadi apa yang kukejar?
Yang kukejar adalah menambah relasi dan berbagi tawa pada mereka yang banyak tawa tapi tak mampu bergerak sebebas manusia biasa.
Itu yang kukejar, itu yang kuimpikan.

"Nuli, banyaklah bekawan. Banyain relasi, gausah pintar-pintar kali. Percuma kau pintar tapi ga banyak kawan. Mereka yang bantu kau nanti"
"Nuli, apapun yang kita punya. Sesusah apapun jangan lupa kasih manfaat ke orang banyak"

Itu kata-kata menohok yang membuatku sadar bahwa hidup tidak tentang belajar tapi tentang membahagiakan banyak orang.

"Buat apa sih ngurusin orang? Apa gunanya coba. Capek-capekin aja"
"Kalo aku mending dirumah daripada sibuk ngurusin orang"
"Sok baik"
"Berbuat baik kok diumbar-umbar"
Sering dengar kata-kata diatas?
Seriiiiiiiiiiing.
Seriiiiiiiiing
Seriiiiiiiing
Tapi bodo amat.
Aku hidup bukan untuk orang yang mencibir apalagi iri sama apa yang aku lakukan.

Sekali lagi, itu yang kukejar.
Aku bertarget meluluskan kuliah tepat waktu. Tapi tak berniat jadi mahasiswa cumlaude yang ujung-ujung cuma buat aku "meninggi" dan tak bermanfaat untuk orang banyak.
"Jadilah manusia yang bermanfaat bagi orang banyak"


Selasa, 09 September 2014

tentang hari-hari yang terlampau berwarna ;)

Senin, 8 Agustus 2014
Hari senin untuk semester ini setiap pagi bakal diantar abang ke kampus. Senin-senin minggu lalu dia tidak pernah telat datang dan hebatnya dia menunggu. Sesuatu yang jarang terjadi. Dosen setiap senin pagi sudah membuat kesepakatan yang datang lebih dari 7.40 tidak akan dibolehin masuk. Dan abang jemput kerumah 7.40
Dan akupun pasrah.
Abang bilang dia akan kekampus setelah antar aku. Ya ide yang lumayan tidak buruk, akhirnya kuputuskan saja ikut dia kekampusnya.

Sesampainya dikampus abang...
Rame...
Dia mengajak aku ke kantin tempat biasa dia berkumpul dan menambah korelasi pertemanannya.
Awalnya dia menyapa seorang laki-laki diujung jauh dari tempat kami duduk.
Mereka saling melempar gurau dari jarak jauh
"Dasar lelaki" dalam hatiku.
Suasana pagi itu di kantin kampusnya tidak begitu ramai, masih banyak sudut yang kosong yang belum terjamah hiruk pikuk mereka yang sekedar ingin minum kopi ataupun makan makanan berat.

Kami duduk di depan stand langganan abang, dia hanya memesan kopi hitam pekat pada ibu yang jadi langganannya dengan panggilan "ibu". Seperti kegemarannya akan kopi hitam yang tak terlalu manis, sesekali aku melemparkan senyum padanya. Suatu saat aku akan terus menemani nya, setiap pagi. Menghirup udara pagi dan secangkir kopi hitam pekat itu. Tak lama itu dia mengeluarkan benda petak berwarna putih-merah yang kuyakini isinya adalah rokok. Ya abang memang perokok.

Aku menunduk, selalu terbiasa untuk tak melihatnya merokok. Entah kenapa seperti dorongan bahwa aku takut melihatnya. Dia menyesap kopinya dan mulai menyalakan rokoknya. Sekali hisap, dia memperhatikanku. Aku tau dia melihatku, terasa meski aku tak melihat langsung. Aku mengangkat muka ku, dia tersenyum.
"Kalo asep rokoknya ketempat dd, pake ini aja. Abang bingung kenapa slayer abang wangi dd"
Dia memberikan slayer hitam yg biasa dipake nya untuk masker ketika naik motor. Kucium slayer itu, memastikan apa yang dia bilang benar atau tidak tentang wangiku.

Suasana kantin mulai ramai, mulai terdengar suara suara tawa, obrolan, ataupun teriakan seorang teman ke temannya. Dan mulai sesak dengan asap rokok yang begitu menusuk hidung dan membuat kepalaku migrain.

Abang memang pandai membaca situasi. Dia lantas mengajakku keliling fakultasnya. Melihat aktivitas yang ada disana. Aku terasa asing.

Selama dia mengajakku berkeliling, dia tak henti-henti nya berceria. Sesekali dia menyapa temannya dan aku hanya tersenyum mendengar gurauan yang dia lakukan ke temannya.
Setiap langkah kami berganti, berpuluh pasang mata seakan melihat gerak kami. Abang berbisik "mereka liatin kita karena apa yg kita "tampilkan" ke mereka". Memang pagi itu aku hanya memakai jeans dan jaket serta converse buluk favorit dan abang yang memakai kemeja dan tracking. Dan abang bilang "80% perempuan dan laki-laki pasti iri dengan pasangan yang kayak anak gunung, dd kan bawa slayer mereka pasti ngira dd anak gunung" aku menoleh dan melempar senyum melihat ekspresi muka lucunya.

Seselesainya kami berkeliling kami kembali ke kantin. Suasana sudah benar-benar tidak kondusif untuk orang macam aku.
Aku tidak suka keramaian dan suasana yang begitu berisik. Dan asap rokok.
Semua terkait kelainan darahku.
Aku tidak pernah bisa ke acara konser atau acara ramai lainnya. Mungkin terdengar cupu tapi itu kenyataan. Kenyataan yang aku selalu ingin itu bukan kenyataan lagi kelak.
Asap rokok, tapi aku mencintai orang yang mencintai benda beracun itu.
Setiap perempuan pasti mendambakan laki-laki yang bersih tanpa pernah paru-paru nya ada asap rokok. Itu pula yg terjadi padaku, dulu. Jujur aku benci itu. Tapi apakah lantas aku tak bisa mencoba mencintai dia yang begitu mencintai aku hanya karena dia perokok? Begitu bodohnya lah ketika masih memikirkan itu tanpa bisa mengerti apa yang jadi pilihan hidupnya.
Walaupun aku berdoa suatu saat dia bisa mengerti apa yg jadi pilihannya adalah hal buruk untuknya. Tapi biarlah itu jadi pilihannya saat ini atau mungkin seterusnya akan begitu.

Akhirnya abang mengajakku untuk kekampus. Karena waktu yang sudah menunjukkan bahwa mata kuliah kedua sudah akan dimulai.
Diperjalanan aku mengeluh kepala ku yang migrain. Dan aku mengeluh bahwa maklumi aku yang tidak bisa didalam suasana itu.


Sampai hari ini kepala ku masih migrain ditambah kakiku memar karena darahku mengeluh.
Tapi paling tidak didalam hidupku, aku tidak akan pernah melalui hari-hari yang membuat darahku tidak aman dan tidak berulah. Hidup terlalu flat saat semuanya aman terkendali saja :))


Salam
Aku yang tidak bisa (suka) keramaian dan asap rokok ;)