Pernah ga suka sama sahabat sendiri? Iya, sahabat dari jaman masih ingusan sampe udah bisa dandan.
Aku pernah sih, sampe jadian dan hanya bertahan 5 bulan, itupun putus nyambung.
Penyebabnya, ya ga cocok.
Walaupun ga cocok itu relatif sih.
Ya, cocok jadi sahabat ga cocok jadi pacar. Pas!
Itu sih alasannya.
Dan lagi-lagi aku jatuh cinta pada sahabat kecilku.
Sebenernya telat banget aku ngepost blog tentang ini, karena rasa suka itu perlahan memudar karena waktu dan tidak adanya kepastian.
Aku wanita biasa.
Aku ga pernah mau bilang tentang perasaanku pada orang yang kusuka, dan yang kuharapkan hanya dia mengerti dengan segala tanda-tanda yang ku berikan.
Ah, tapi yasudahlah.
Kayaknya memang sahabat ya untuk sahabat ga bisa untuk dijadikan pacar atau apapun itu. ya pure harus sahabatan!
Minggu, 21 Juli 2013
Jumat, 19 Juli 2013
no body's perfect ;)
Pernahkah merasakan selalu disalahkan padahal kesalahan itu tidak 100% pure kesalahan diri kita sendiri?
Hal terfatal yang pernah saya lakukan justru membuat saya, dibenci banyak orang :))
Lagi-lagi itu karena mereka tidak mencoba untuk mengetahui apa masalahnya :))
Tapi, apa peduli saya kepada mereka sedangkan mereka saja tidak mengerti bagaimana perasaan saya dengan segala tuduhan itu. Allah knows who's best.
Saya belajar dari segalanya, mungkin sebaiknya saya introspeksi diri dari kejadian itu.
Saya belajar untuk tidak mudah menilai orang hanya dari sekali pandang, tanpa duduk berdua dan berbicara padanya.
Duduk dan berbicara lebih dari 2 kali dan harusnya lebih untuk mengetahui kepribadian orang itu.
Saya orang yang sulit membuka diri, ya memang.
Kecuali kepada orang yang mau dan mampu mendedikasikan hidupnya untuk mendengarkan cerita saya juga.
Dan dengan senang hati pula saya mendengarkan orang itu berbicara.
Tidak mudah menerima kekurangan orang lain.
Entah orang itu tidak nyambung diajak bicara atau cenderung emosian.
Tapi, disisi itu mereka pasti punya kelebihan yang amat sangat tidak bisa kita tebak.
Entah mereka begitu pengertian atau malah menghargai segala keputusan yang kita ambil atau juga dia penasehat yang ulung.
Lagi-lagi, ketika kita tak kenal dia kita akan berasumsi negetif tentang dirinya.
Intinya sih gini, makhluk ciptaan Allah itu semuanya sempurna.
Pemikirannya aja yang kadang ga sempurna, karena menurut asumsiku sih (akukan juga manusia) bahwa ada yang mencampuri masalah pemikiran yaitu hati. Karena hati memang kadang tidak bisa bohong.
Ah, jadi ga jelas gini isi blog ini. Tapi, intinya.
Kenali oarang terlebih dahulu baru boleh menilai orang itu :))
Hal terfatal yang pernah saya lakukan justru membuat saya, dibenci banyak orang :))
Lagi-lagi itu karena mereka tidak mencoba untuk mengetahui apa masalahnya :))
Tapi, apa peduli saya kepada mereka sedangkan mereka saja tidak mengerti bagaimana perasaan saya dengan segala tuduhan itu. Allah knows who's best.
Saya belajar dari segalanya, mungkin sebaiknya saya introspeksi diri dari kejadian itu.
Saya belajar untuk tidak mudah menilai orang hanya dari sekali pandang, tanpa duduk berdua dan berbicara padanya.
Duduk dan berbicara lebih dari 2 kali dan harusnya lebih untuk mengetahui kepribadian orang itu.
Saya orang yang sulit membuka diri, ya memang.
Kecuali kepada orang yang mau dan mampu mendedikasikan hidupnya untuk mendengarkan cerita saya juga.
Dan dengan senang hati pula saya mendengarkan orang itu berbicara.
Tidak mudah menerima kekurangan orang lain.
Entah orang itu tidak nyambung diajak bicara atau cenderung emosian.
Tapi, disisi itu mereka pasti punya kelebihan yang amat sangat tidak bisa kita tebak.
Entah mereka begitu pengertian atau malah menghargai segala keputusan yang kita ambil atau juga dia penasehat yang ulung.
Lagi-lagi, ketika kita tak kenal dia kita akan berasumsi negetif tentang dirinya.
Intinya sih gini, makhluk ciptaan Allah itu semuanya sempurna.
Pemikirannya aja yang kadang ga sempurna, karena menurut asumsiku sih (akukan juga manusia) bahwa ada yang mencampuri masalah pemikiran yaitu hati. Karena hati memang kadang tidak bisa bohong.
Ah, jadi ga jelas gini isi blog ini. Tapi, intinya.
Kenali oarang terlebih dahulu baru boleh menilai orang itu :))
Kamis, 18 Juli 2013
miracle
Pernah mengalami peristiwa "Kita meminta apa, diberikan apa?"
Ini bukan ke sesama manusia. Tapi, dari Allah ke manusia.
Kesal dengan keadaan itu? Tentu.
Dan lagi-lagi saya mengalaminya.
Dari dahulu saya bercita-cita menjadi psikolog. Tentunya harus menjalani dan masuk kuliah jurusan psikologi.
Saya mencoba ikut test disalah satu perguruan tinggi negeri di kota saya.
Dan, zonk! saya gagal :')
Sebelum saya mengetahui saya akan gagal, saya mencoba mendaftarkan diri di universitas itu kembali dan dengan berani nya saya mengambil akuntansi :')
Itu pula satu-satunya jurusan yang disetujui oleh seluruh keluarga saya.
Saya menuruti kemauan mereka, karena saya yakin doa restu mereka ada dijurusan itu. Dan Insyaallah saya yakin kedepannya akan baik-baik saja.
Iya, saya mencoba optimis dengan itu semua, walaupun kedepannya belum tau.
Dan terpikir oleh saya pula, Allah tidak pernah memberikan semua harapan yang saya minta kepadanya. Tapi, dia selalu memberikan hal yang terbaik untuk sya.
Ketika saya ingin minta disehatkan selalu, saya malah diberikan sakit.
Saya ambil kesimpulan dari situ bahwa Allah ingin melihat sekuat apa saya menghadapi semuanya, apakah saya merasa putus asa atau malah bangkit dan selalu semangat.
Saya tau, Allah selalu mengabulkan semua permintaan hambanya jika itu memang yang terbaik dimataNya
Tapi dia tidak mengabulkan jika dimataNya itu bukanlah hal yang terbaik.
Allah selalu sayang sama hambanya, selalu.
Tapi, kadang manusia saja tak pernah mengucap syukur akan apa yang diberikan.
Bahkan ada yang putus asa karena itulah, tidak pernah mengucap syukur akan hidupnya.
Saya sendiri pernah seperti itu, tapi saya berulang kali mendapat pengalaman dari segala yang Allah kasih.
Kadang ketika ingat semua peristiwa itu saya merasa down, saya menyesali semuanya.
Tapi apakah dengan hanya menyesali tanpa berubah dan bersyukur itu bisa mengubah semuanya?
Saya rasa tidak, dan memang tidak.
Memperbaiki dan menjadi orang yang baru itu seharusnya.
Intinya, Allah sayang sama semua hambanya.
Dia juga tidak memilih siapa yang dapat keajaiban dari dia.
Semoga kita golongan orang-orang yang dipilih Allah untuk mendapat hal terbaik di dunia maupun di akhirat kelak :)))
Ini bukan ke sesama manusia. Tapi, dari Allah ke manusia.
Kesal dengan keadaan itu? Tentu.
Dan lagi-lagi saya mengalaminya.
Dari dahulu saya bercita-cita menjadi psikolog. Tentunya harus menjalani dan masuk kuliah jurusan psikologi.
Saya mencoba ikut test disalah satu perguruan tinggi negeri di kota saya.
Dan, zonk! saya gagal :')
Sebelum saya mengetahui saya akan gagal, saya mencoba mendaftarkan diri di universitas itu kembali dan dengan berani nya saya mengambil akuntansi :')
Itu pula satu-satunya jurusan yang disetujui oleh seluruh keluarga saya.
Saya menuruti kemauan mereka, karena saya yakin doa restu mereka ada dijurusan itu. Dan Insyaallah saya yakin kedepannya akan baik-baik saja.
Iya, saya mencoba optimis dengan itu semua, walaupun kedepannya belum tau.
Dan terpikir oleh saya pula, Allah tidak pernah memberikan semua harapan yang saya minta kepadanya. Tapi, dia selalu memberikan hal yang terbaik untuk sya.
Ketika saya ingin minta disehatkan selalu, saya malah diberikan sakit.
Saya ambil kesimpulan dari situ bahwa Allah ingin melihat sekuat apa saya menghadapi semuanya, apakah saya merasa putus asa atau malah bangkit dan selalu semangat.
Saya tau, Allah selalu mengabulkan semua permintaan hambanya jika itu memang yang terbaik dimataNya
Tapi dia tidak mengabulkan jika dimataNya itu bukanlah hal yang terbaik.
Allah selalu sayang sama hambanya, selalu.
Tapi, kadang manusia saja tak pernah mengucap syukur akan apa yang diberikan.
Bahkan ada yang putus asa karena itulah, tidak pernah mengucap syukur akan hidupnya.
Saya sendiri pernah seperti itu, tapi saya berulang kali mendapat pengalaman dari segala yang Allah kasih.
Kadang ketika ingat semua peristiwa itu saya merasa down, saya menyesali semuanya.
Tapi apakah dengan hanya menyesali tanpa berubah dan bersyukur itu bisa mengubah semuanya?
Saya rasa tidak, dan memang tidak.
Memperbaiki dan menjadi orang yang baru itu seharusnya.
Intinya, Allah sayang sama semua hambanya.
Dia juga tidak memilih siapa yang dapat keajaiban dari dia.
Semoga kita golongan orang-orang yang dipilih Allah untuk mendapat hal terbaik di dunia maupun di akhirat kelak :)))
Selasa, 16 Juli 2013
:))
Akhir-akhir ini selalu ada yang membuat hati semakin bertekad untuk jadi orang yang sukses.
Mungkin tidak bercita-cita menjadi pejabat atau pegawai negeri, tapi sukses menjadi orang yang bermanfaat untuk kehidupan orang lain khususnya anak kecil.
Oke, saya memang bukan orang yang mudah dekat dengan anak kecil. Dan mantan saya pun bilang saya tidak bisa dekat dengan anak kecil.
Oke oke saya akui itu...
Tapi, semakin kesini saya sadar bahwa sebenarnya ada hal penting tentang anak-anak yang serius.
Tentang sebuah nama bernama Kanker.
Oke ini serius, bahkan sangat serius daripada apapun.
Dengar namanya saja membuat saya enggan membayangkan bagaimana bila saya sendiri terkena penyakit itu, saya yang dewasa. Yang umurnya hampir menginjakkan 19 tahun ingin jauh-jauh dari penyakit itu.
Bagaimana anak-anak?
Ya Tuhan, saya tidak sampai hati memikirkannya.
Kenapa diberikan kepada mereka penyakit yang begitu berat di usia mereka yang harusnya tumbuh dan berkembang, sedang suka-sukanya main, sedang lucu-lucunya.
Kenapa diberikan beban seberat itu yaa Allah.
Kenapa ada penyakit itu ya Allah?
Saya tidak kuasa membayangkan rasa sakit yang begitunya, merengut senyum-senyum malaikat mereka
Memudarkan hasrat mereka untuk bermain karena merasakan sakit yang amat dalam.
Belum lagi kesadaran orangtua untuk memantau apakah anaknya terlihat sakit.
Belum lagi biaya untuk mendatangi dokter.
Dan ketika vonis itu terjadi, apakah langkah selanjutnya?
Bagaimana bila orangtua mereka tidak punya biaya.
Apalagi mereka yang tinggal diwilayah luar kota yang tidak punya rumah sakit lengkap sepert dikota.
Allah, tolong kabulkan doaku untuk membangun rumah singgah anak kanker untuk kota Palembangku.
Supaya saudara-saudaraku tidak kesulitan untuk beristirahat jika tidak ada waktu periksa ataupun kemoteraphi.
Supaya saling erat silaturahmi kami nantinya.
Supaya aku bisa membantu mereka, mereka adik-adik dan saudaraku.
Aamiiin :')
Mungkin tidak bercita-cita menjadi pejabat atau pegawai negeri, tapi sukses menjadi orang yang bermanfaat untuk kehidupan orang lain khususnya anak kecil.
Oke, saya memang bukan orang yang mudah dekat dengan anak kecil. Dan mantan saya pun bilang saya tidak bisa dekat dengan anak kecil.
Oke oke saya akui itu...
Tapi, semakin kesini saya sadar bahwa sebenarnya ada hal penting tentang anak-anak yang serius.
Tentang sebuah nama bernama Kanker.
Oke ini serius, bahkan sangat serius daripada apapun.
Dengar namanya saja membuat saya enggan membayangkan bagaimana bila saya sendiri terkena penyakit itu, saya yang dewasa. Yang umurnya hampir menginjakkan 19 tahun ingin jauh-jauh dari penyakit itu.
Bagaimana anak-anak?
Ya Tuhan, saya tidak sampai hati memikirkannya.
Kenapa diberikan kepada mereka penyakit yang begitu berat di usia mereka yang harusnya tumbuh dan berkembang, sedang suka-sukanya main, sedang lucu-lucunya.
Kenapa diberikan beban seberat itu yaa Allah.
Kenapa ada penyakit itu ya Allah?
Saya tidak kuasa membayangkan rasa sakit yang begitunya, merengut senyum-senyum malaikat mereka
Memudarkan hasrat mereka untuk bermain karena merasakan sakit yang amat dalam.
Belum lagi kesadaran orangtua untuk memantau apakah anaknya terlihat sakit.
Belum lagi biaya untuk mendatangi dokter.
Dan ketika vonis itu terjadi, apakah langkah selanjutnya?
Bagaimana bila orangtua mereka tidak punya biaya.
Apalagi mereka yang tinggal diwilayah luar kota yang tidak punya rumah sakit lengkap sepert dikota.
Allah, tolong kabulkan doaku untuk membangun rumah singgah anak kanker untuk kota Palembangku.
Supaya saudara-saudaraku tidak kesulitan untuk beristirahat jika tidak ada waktu periksa ataupun kemoteraphi.
Supaya saling erat silaturahmi kami nantinya.
Supaya aku bisa membantu mereka, mereka adik-adik dan saudaraku.
Aamiiin :')
Senin, 01 Juli 2013
much
Ketika cinta hanya dapat berinteraksi dari indera pengucap tanpa bertatap pandangan.
Ketika penyambungnya hanya doa tanpa berjabat tangan dan hanya bertukar sukma.
Segala sesuatunya hanya tergambar dari banyaknya saling sapa melalui telepati alam.
Bertukar keindahan dan memuji dari banyaknya bicara.
Dan entah kapan semuanya berubah untuk bicara sambil menatap dan berjalan sambil berpegang tangan.
Segala sesuatu yang indah tidak datang secara instant.
Keindahan yang abadi yang entah kapan datangnya tetapi selalu dinanti sang pecinta.
Bagi sang pecinta, hanya dengan mendengar suaranya tanpa bertatap menjadi harga mutlak sebuah kebahagiaan.
Karena bagi sang pecinta.
Hidup tanpa suaranya bagaikan pagi tanpa embun
Ketika penyambungnya hanya doa tanpa berjabat tangan dan hanya bertukar sukma.
Segala sesuatunya hanya tergambar dari banyaknya saling sapa melalui telepati alam.
Bertukar keindahan dan memuji dari banyaknya bicara.
Dan entah kapan semuanya berubah untuk bicara sambil menatap dan berjalan sambil berpegang tangan.
Segala sesuatu yang indah tidak datang secara instant.
Keindahan yang abadi yang entah kapan datangnya tetapi selalu dinanti sang pecinta.
Bagi sang pecinta, hanya dengan mendengar suaranya tanpa bertatap menjadi harga mutlak sebuah kebahagiaan.
Karena bagi sang pecinta.
Hidup tanpa suaranya bagaikan pagi tanpa embun
Langganan:
Postingan (Atom)