Senin, 8 Agustus 2014
Hari senin untuk semester ini setiap pagi bakal diantar abang ke kampus. Senin-senin minggu lalu dia tidak pernah telat datang dan hebatnya dia menunggu. Sesuatu yang jarang terjadi. Dosen setiap senin pagi sudah membuat kesepakatan yang datang lebih dari 7.40 tidak akan dibolehin masuk. Dan abang jemput kerumah 7.40
Dan akupun pasrah.
Abang bilang dia akan kekampus setelah antar aku. Ya ide yang lumayan tidak buruk, akhirnya kuputuskan saja ikut dia kekampusnya.
Sesampainya dikampus abang...
Rame...
Dia mengajak aku ke kantin tempat biasa dia berkumpul dan menambah korelasi pertemanannya.
Awalnya dia menyapa seorang laki-laki diujung jauh dari tempat kami duduk.
Mereka saling melempar gurau dari jarak jauh
"Dasar lelaki" dalam hatiku.
Suasana pagi itu di kantin kampusnya tidak begitu ramai, masih banyak sudut yang kosong yang belum terjamah hiruk pikuk mereka yang sekedar ingin minum kopi ataupun makan makanan berat.
Kami duduk di depan stand langganan abang, dia hanya memesan kopi hitam pekat pada ibu yang jadi langganannya dengan panggilan "ibu". Seperti kegemarannya akan kopi hitam yang tak terlalu manis, sesekali aku melemparkan senyum padanya. Suatu saat aku akan terus menemani nya, setiap pagi. Menghirup udara pagi dan secangkir kopi hitam pekat itu. Tak lama itu dia mengeluarkan benda petak berwarna putih-merah yang kuyakini isinya adalah rokok. Ya abang memang perokok.
Aku menunduk, selalu terbiasa untuk tak melihatnya merokok. Entah kenapa seperti dorongan bahwa aku takut melihatnya. Dia menyesap kopinya dan mulai menyalakan rokoknya. Sekali hisap, dia memperhatikanku. Aku tau dia melihatku, terasa meski aku tak melihat langsung. Aku mengangkat muka ku, dia tersenyum.
"Kalo asep rokoknya ketempat dd, pake ini aja. Abang bingung kenapa slayer abang wangi dd"
Dia memberikan slayer hitam yg biasa dipake nya untuk masker ketika naik motor. Kucium slayer itu, memastikan apa yang dia bilang benar atau tidak tentang wangiku.
Suasana kantin mulai ramai, mulai terdengar suara suara tawa, obrolan, ataupun teriakan seorang teman ke temannya. Dan mulai sesak dengan asap rokok yang begitu menusuk hidung dan membuat kepalaku migrain.
Abang memang pandai membaca situasi. Dia lantas mengajakku keliling fakultasnya. Melihat aktivitas yang ada disana. Aku terasa asing.
Selama dia mengajakku berkeliling, dia tak henti-henti nya berceria. Sesekali dia menyapa temannya dan aku hanya tersenyum mendengar gurauan yang dia lakukan ke temannya.
Setiap langkah kami berganti, berpuluh pasang mata seakan melihat gerak kami. Abang berbisik "mereka liatin kita karena apa yg kita "tampilkan" ke mereka". Memang pagi itu aku hanya memakai jeans dan jaket serta converse buluk favorit dan abang yang memakai kemeja dan tracking. Dan abang bilang "80% perempuan dan laki-laki pasti iri dengan pasangan yang kayak anak gunung, dd kan bawa slayer mereka pasti ngira dd anak gunung" aku menoleh dan melempar senyum melihat ekspresi muka lucunya.
Seselesainya kami berkeliling kami kembali ke kantin. Suasana sudah benar-benar tidak kondusif untuk orang macam aku.
Aku tidak suka keramaian dan suasana yang begitu berisik. Dan asap rokok.
Semua terkait kelainan darahku.
Aku tidak pernah bisa ke acara konser atau acara ramai lainnya. Mungkin terdengar cupu tapi itu kenyataan. Kenyataan yang aku selalu ingin itu bukan kenyataan lagi kelak.
Asap rokok, tapi aku mencintai orang yang mencintai benda beracun itu.
Setiap perempuan pasti mendambakan laki-laki yang bersih tanpa pernah paru-paru nya ada asap rokok. Itu pula yg terjadi padaku, dulu. Jujur aku benci itu. Tapi apakah lantas aku tak bisa mencoba mencintai dia yang begitu mencintai aku hanya karena dia perokok? Begitu bodohnya lah ketika masih memikirkan itu tanpa bisa mengerti apa yang jadi pilihan hidupnya.
Walaupun aku berdoa suatu saat dia bisa mengerti apa yg jadi pilihannya adalah hal buruk untuknya. Tapi biarlah itu jadi pilihannya saat ini atau mungkin seterusnya akan begitu.
Akhirnya abang mengajakku untuk kekampus. Karena waktu yang sudah menunjukkan bahwa mata kuliah kedua sudah akan dimulai.
Diperjalanan aku mengeluh kepala ku yang migrain. Dan aku mengeluh bahwa maklumi aku yang tidak bisa didalam suasana itu.
Sampai hari ini kepala ku masih migrain ditambah kakiku memar karena darahku mengeluh.
Tapi paling tidak didalam hidupku, aku tidak akan pernah melalui hari-hari yang membuat darahku tidak aman dan tidak berulah. Hidup terlalu flat saat semuanya aman terkendali saja :))
Salam
Aku yang tidak bisa (suka) keramaian dan asap rokok ;)
Hari senin untuk semester ini setiap pagi bakal diantar abang ke kampus. Senin-senin minggu lalu dia tidak pernah telat datang dan hebatnya dia menunggu. Sesuatu yang jarang terjadi. Dosen setiap senin pagi sudah membuat kesepakatan yang datang lebih dari 7.40 tidak akan dibolehin masuk. Dan abang jemput kerumah 7.40
Dan akupun pasrah.
Abang bilang dia akan kekampus setelah antar aku. Ya ide yang lumayan tidak buruk, akhirnya kuputuskan saja ikut dia kekampusnya.
Sesampainya dikampus abang...
Rame...
Dia mengajak aku ke kantin tempat biasa dia berkumpul dan menambah korelasi pertemanannya.
Awalnya dia menyapa seorang laki-laki diujung jauh dari tempat kami duduk.
Mereka saling melempar gurau dari jarak jauh
"Dasar lelaki" dalam hatiku.
Suasana pagi itu di kantin kampusnya tidak begitu ramai, masih banyak sudut yang kosong yang belum terjamah hiruk pikuk mereka yang sekedar ingin minum kopi ataupun makan makanan berat.
Kami duduk di depan stand langganan abang, dia hanya memesan kopi hitam pekat pada ibu yang jadi langganannya dengan panggilan "ibu". Seperti kegemarannya akan kopi hitam yang tak terlalu manis, sesekali aku melemparkan senyum padanya. Suatu saat aku akan terus menemani nya, setiap pagi. Menghirup udara pagi dan secangkir kopi hitam pekat itu. Tak lama itu dia mengeluarkan benda petak berwarna putih-merah yang kuyakini isinya adalah rokok. Ya abang memang perokok.
Aku menunduk, selalu terbiasa untuk tak melihatnya merokok. Entah kenapa seperti dorongan bahwa aku takut melihatnya. Dia menyesap kopinya dan mulai menyalakan rokoknya. Sekali hisap, dia memperhatikanku. Aku tau dia melihatku, terasa meski aku tak melihat langsung. Aku mengangkat muka ku, dia tersenyum.
"Kalo asep rokoknya ketempat dd, pake ini aja. Abang bingung kenapa slayer abang wangi dd"
Dia memberikan slayer hitam yg biasa dipake nya untuk masker ketika naik motor. Kucium slayer itu, memastikan apa yang dia bilang benar atau tidak tentang wangiku.
Suasana kantin mulai ramai, mulai terdengar suara suara tawa, obrolan, ataupun teriakan seorang teman ke temannya. Dan mulai sesak dengan asap rokok yang begitu menusuk hidung dan membuat kepalaku migrain.
Abang memang pandai membaca situasi. Dia lantas mengajakku keliling fakultasnya. Melihat aktivitas yang ada disana. Aku terasa asing.
Selama dia mengajakku berkeliling, dia tak henti-henti nya berceria. Sesekali dia menyapa temannya dan aku hanya tersenyum mendengar gurauan yang dia lakukan ke temannya.
Setiap langkah kami berganti, berpuluh pasang mata seakan melihat gerak kami. Abang berbisik "mereka liatin kita karena apa yg kita "tampilkan" ke mereka". Memang pagi itu aku hanya memakai jeans dan jaket serta converse buluk favorit dan abang yang memakai kemeja dan tracking. Dan abang bilang "80% perempuan dan laki-laki pasti iri dengan pasangan yang kayak anak gunung, dd kan bawa slayer mereka pasti ngira dd anak gunung" aku menoleh dan melempar senyum melihat ekspresi muka lucunya.
Seselesainya kami berkeliling kami kembali ke kantin. Suasana sudah benar-benar tidak kondusif untuk orang macam aku.
Aku tidak suka keramaian dan suasana yang begitu berisik. Dan asap rokok.
Semua terkait kelainan darahku.
Aku tidak pernah bisa ke acara konser atau acara ramai lainnya. Mungkin terdengar cupu tapi itu kenyataan. Kenyataan yang aku selalu ingin itu bukan kenyataan lagi kelak.
Asap rokok, tapi aku mencintai orang yang mencintai benda beracun itu.
Setiap perempuan pasti mendambakan laki-laki yang bersih tanpa pernah paru-paru nya ada asap rokok. Itu pula yg terjadi padaku, dulu. Jujur aku benci itu. Tapi apakah lantas aku tak bisa mencoba mencintai dia yang begitu mencintai aku hanya karena dia perokok? Begitu bodohnya lah ketika masih memikirkan itu tanpa bisa mengerti apa yang jadi pilihan hidupnya.
Walaupun aku berdoa suatu saat dia bisa mengerti apa yg jadi pilihannya adalah hal buruk untuknya. Tapi biarlah itu jadi pilihannya saat ini atau mungkin seterusnya akan begitu.
Akhirnya abang mengajakku untuk kekampus. Karena waktu yang sudah menunjukkan bahwa mata kuliah kedua sudah akan dimulai.
Diperjalanan aku mengeluh kepala ku yang migrain. Dan aku mengeluh bahwa maklumi aku yang tidak bisa didalam suasana itu.
Sampai hari ini kepala ku masih migrain ditambah kakiku memar karena darahku mengeluh.
Tapi paling tidak didalam hidupku, aku tidak akan pernah melalui hari-hari yang membuat darahku tidak aman dan tidak berulah. Hidup terlalu flat saat semuanya aman terkendali saja :))
Salam
Aku yang tidak bisa (suka) keramaian dan asap rokok ;)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar