Ketika cinta hanya dapat berinteraksi dari indera pengucap tanpa bertatap pandangan.
Ketika penyambungnya hanya doa tanpa berjabat tangan dan hanya bertukar sukma.
Segala sesuatunya hanya tergambar dari banyaknya saling sapa melalui telepati alam.
Bertukar keindahan dan memuji dari banyaknya bicara.
Dan entah kapan semuanya berubah untuk bicara sambil menatap dan berjalan sambil berpegang tangan.
Segala sesuatu yang indah tidak datang secara instant.
Keindahan yang abadi yang entah kapan datangnya tetapi selalu dinanti sang pecinta.
Bagi sang pecinta, hanya dengan mendengar suaranya tanpa bertatap menjadi harga mutlak sebuah kebahagiaan.
Karena bagi sang pecinta.
Hidup tanpa suaranya bagaikan pagi tanpa embun
Tidak ada komentar:
Posting Komentar