Senin, 25 November 2013

Hai, Tuan

Hai Tuan yang diam-diam memperhatikan sepasang bola mataku.
Senyumanmu yang jarang kulihat, senyuman yang tak berani untukku tatap, senyuman teduh pembuat rasa nyaman yang entah darimana datangnya.
Kau datang seolah-olah musim telah berlalu, kau datang begitu manis.
Begitu mengesankan.
Sosokmu yang selalu berbicara seperlunya tapi tatapan matamu yang berbicara lebih banyak.
Aku terhenyak karena nya.
Aku nyaman berada disampingmu disaat kau berbicara serius disampingku sambil melihat bola mata yang kusembunyikan.
Aku takut kau mengetahui segala rasa ini, aku terlalu takut kau menyelidiki aku lebih dalam dari sepasang bola mataku.


Sialnya, aku mudah sekali terhipnotis oleh tindakan-tindakanmu itu.
Sialnya pula aku nyaman dengan adanya dirimu saat ini.


Wahai Tuan yang tak kusebutkan namamu.
Jika kau berkenan, aku ingin bicara.
Bicara berdua.
Jika berkenan kelak kau dapat menjagaku, menghormatiku sebagai wanitamu, mencintai tanpa menyentuh telapak tanganku, tetapi tetap mengelus lembut kepalaku.




Karena ku yakini, jika kau dapat menjagaku. Aku berdoa mati-matian agar kau yang terakhir dihidupku. Aku meminta dengan penuh kepada Tuhan.





Hai Tuan yang selalu memperhatikan sepasang bola mataku...
Hai kau yang selalu membuatku terbayang akan kata-kata singkatmu yang penuh misteri didalamnya
Kau, yang entah sejak kapan singgah disenyumanku setiap aku menceritakan sosokmu pada orang disekitarku
Kau yang begitu membuatku terhenyak akan sikap-sikap manismu yang tak pernah kumengerti mengapa kau lakukan itu padaku
Dan kau yang selalu menganggap aku hebat padahal aku tak sehebat itu
Kau begitu istimewa dimata dan dihatiku saat ini...

Terimakasih sudah hendak singgah disenyumanku, Tuan.......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar